5 Brand Ritel Modern Yang Berguguran Di 2017

April 9, 2018

“Secara makro secara totalitas ekonomi net (ritel) masih positif tahun ini, dan menurut saya akan terjadi sebuah modernisasi luar biasa. ATKearney menyebut penjualan ritel di Indonesia mencapai US$ 350 miliar tahun ini, atau hanya naik 8,02 persen dari tahun lalu. Mengingat potensi pasar ritel Indonesia masih besar. “Jadi, Matahari yang menutup dua tokonya tak serta-merta dapat dikaitkan karena bisnisnya tak mampu bertahan, begitu pun pe­rusahaan ritel lainnya,” ujarnya. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Tutum Rahanta mengatakan rencana PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menutup tiga gerai Lotus Department Store di Thamrin, Bekasi dan Cibubur, imbas dari persaingan usaha yang tidak bisa diimbangi saat ini.
Sebab, saat ini hampir seluruh lini bisnis ritel baik berupa barang maupun jasa dijalankan secara online. Di luar semangat dan optimisme ketua idEA terhadap potensi kenaikan transaksi bisnis online, bila melihat pertumbuhan ekonomi di era Pemerintahan Jokowi saat ini, bisa jadi malah membuat masyarakat harap-harap cemas. Karena itu, perusahaan tersebut akhirnya beralih ke bisnis niaga daring pada September.
Bisnis penjualan buku secara online ini sepertinya akan menjadi bisnis yang menjanjikan di masa mendatang. - Perkembangan industri ritel Indonesia tahun ini lesu. Hal ini terlihat dari tren pertumbuhan industri ritel yang terus menurun sejak 2013 silam. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menginginkan adanya aturan main atau regulasi pada perdagangan online atau e-commerce di indonesia.
Mengintip Pembangunan MRT & LRT Jakarta
Menurutnya, perkembangan bisnis online tak berdampak negatif terhadap kondisi pasar binis offline atau toko ritel. Wenas mengatakan, dia tak begitu saja bisa menarik kesimpulan mengapa ada anomali antara angka-angka ekonomi makro yang baik, dengan lesunya daya beli sebagaimana dikeluhkan para pengusaha termasuk Asosiasi Pengusaha Indonesia. Kejatuhan ritel ini juga disebabkan karena ritel ini kalah bersaing dengan toko online.
Roy meyakini perubahan gaya hidup masyarakat yang lebih memilih leisure (kesenangan) dan menabung menjadi fenomena yang membuat ritel lesu. Penutupan kedua toko ritel ini membuat keduanya memberikan diskon besar-besaran dalam rangka menghabiskan persediaan barang. Ekonom Faisal Basri juga punya istilah sendiri mendefinisikan fenomena yang terjadi bukan penurunan daya beli, justru konsumsi masyarakat sedang meningkat.
Banyak yang beranggapan, lesunya sektor ritel disinyalir karena daya beli masyarakat bawah Indonesia yang menurun. Akibatnya, masyarakat sempat berburu habis ke 2 toko ritel ini untuk memborong habis persediaan barang. Dengan pertumbuhan bisnis ritel sebesar 8% per tahun, pasar Indonesia tetap menarik. Roy menegaskan penutupan sejumlah gerai di pusat perbelanjaan bukan dilatarbelakangi oleh perubahan pola konsumsi dari offline ke e-commerce.
Pertanyaan Seputar MRT Di Singapore
Bermacam-macam toko ritel ini bisa kamu temui setiap hari mulai dari toko ritel konvensional (toko kelontong), toko ritel modern (swalayan), hingga toko ritel online yang getol menggencarkan promosinya tiap kamu membuka gawai. Bahkan ada yang menutup gerai ritel di pusat belanja yang legendaris. Jajaran toko online seperti Lazada, Tokopedia atau Blibli dituding sebagai penyebab lesunya bisnis ritel di dunia nyata.
Wenas kompak menjawab bahwa pangsa pasar bisnis e-commerce di Indonesia kurang 2%. Mirip jawaban CEO Bukalapak Zaky. Sementara untuk pertumbuhan, hingga di penghujung tahun 2017, dirinya memproyeksikan pertumbuhan ritel akan berada dikisaran angka 8-9 persen. Jenis toko ritel yang tutup pun merata baik yang bergerak di bidang penjualan pakaian jadi atau non makanan maupun bidang makanan.
PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA - Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai
Bahkan, Roy menyebut gaya hidup senang-senang itu telah menggerus 50% pendapatan industri ritel pada 2017. Menurut dia, minat masyarakat untuk berbelanja mulai menu­run sejak bisnis online mulai berkembang. Senada, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Suahasil Nazara melihat bahwa daya beli masyarakat bisa saja benar beralih dari ritel ke online.
Selain itu, faktor penuruan daya beli ikut mempengaruhi lesunya bisnis ritel modern. Kalau ngomongin ritel, bahasannya nggak akan jauh dari demografi masyarakat Indonesia sendiri sih. Penutupan ini menggenapkan penutupan peritel lainnya yakni PT Matahari Departemen Store Tbk yang menutup dua gerainya di Pasar Raya Blok M dan Manggarai, serta Metro department store, beberapa bulan lalu.